KESETIAAN DANIEL DI TENGAH PERBEDAANtmi (TINJAUAN TEOLOGIS KONTEKSTUAL PLURALISME)
Keywords:
Daniel, Kesetiaan Teologis, Pluralisme, Eksegesis, Christ In/As CultureAbstract
Fenomena pluralisme agama dan budaya dalam masyarakat kontemporer menimbulkan tantangan etis dan teologis bagi umat beriman, khususnya dalam upaya mempertahankan identitas diri di tengah arus keragaman. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola kesetiaan Daniel khususnya dalam Daniel 1, 3, dan 6 sebagai model kesetiaan teologis yang adaptif namun berintegritas, serta merumuskan implikasi teologis-kontekstualnya bagi pemahaman pluralisme masa kini. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi literatur, memadukan eksegesis biblika dan teologi kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kitab Daniel menyajikan model kesetiaan yang disebut resistensi cerdas (smart resistance) (Daniel 1), di mana Daniel menerima adaptasi non-esensial (nama dan jabatan) sambil menetapkan batas integritas teologis yang tidak dapat dikompromikan (makanan). Dalam situasi konflik mutlak, Daniel 3 dan 6 menegaskan prinsip Non Possumus (Kami tidak bisa), yang memprioritaskan kesetiaan vertikal kepada Allah di atas kepatuhan horizontal kepada negara, menjadikannya model warga negara yang taat sekaligus kritis. Implikasi teologis-kontekstual dari temuan ini adalah Daniel merepresentasikan model hubungan Iman dan Budaya "Kristen di tengah dunia" (Christ In/As Culture), yang mensyaratkan identitas yang kuat sebagai fondasi bagi dialog dan kerjasama etis (misalnya, pelayanan publik). Gereja dipanggil untuk menjadi agen pembawa damai (shalom) dengan kemampuan memilah antara hal esensial dan non-esensial dalam konteks majemuk.