Archives

  • Media Sarana Penginjilan
    Vol. 17 No. 1 (2023)

    Jurnal-jurnal bertema media sarana penginjilan pada intinya ingin menjawab pertanyaan: bagaimana kabar baik dapat dikomunikasikan secara efektif melalui kanal digital, dan apa yang terjadi setelah pesan itu diterima. Ada penekanan kuat bahwa penginjilan masa kini bukan berhenti pada penyebaran konten, tetapi perlu jalur lanjutan agar orang tidak hanya memahami, melainkan juga bertumbuh lewat pemuridan. Karena itu, berbagai kajian membahas efektivitas penginjilan digital serta tantangan nyata di lapangan, mulai dari kebutuhan pendampingan berkelanjutan, kualitas materi, sampai hambatan yang muncul ketika audiens berinteraksi dengan pesan secara cepat dan sementara di ruang online.

    Di sisi lain, jurnal-jurnal ini juga menawarkan panduan yang lebih praktis mengenai “cara menyampaikan”: mulai dari model pemberitaan Kabar Baik lewat media digital, pemanfaatan internet sebagai ruang pemberitaan, hingga peran media sosial di era 4.0 yang serba interaktif dan berbasis jangkauan. Dalam konteks yang lebih spesifik, kajian-kajian lain menguatkan bahwa strategi penginjilan harus adaptif terhadap situasi (misalnya pandemi) dan peka terhadap keragaman budaya (multikultur). Dengan demikian, pembaca diajak melihat media bukan sekadar alat, melainkan sarana strategis yang menentukan keberhasilan misi, baik dari segi pesan, pendekatan komunikasi, maupun kesinambungan respons iman.

  • Misiologi dan Media
    Vol. 18 No. 2 (2023)

    Pembahasan dalam jurnal bertema Misiologi dan Media berangkat dari satu gagasan kunci: misi gereja tidak lagi bergerak dalam ruang yang sama seperti sebelumnya. Dalam era post-digital, cara orang berelasi, mencari informasi, dan membentuk identitas sosial sudah berubah. Jurnal-jurnal ini memetakan tantangan yang menyertai pergeseran tersebut sekaligus menunjukkan peluang baru bagi gereja untuk hadir dengan cara yang lebih kontekstual. Bahkan ketika gagasan seperti gereja metaverse muncul, inti yang ingin ditangkap tetap sama: bagaimana gereja membaca arah zaman tanpa kehilangan panggilan misinya.

    Di sisi lain, jurnal-jurnal ini menyoroti sisi praktis misi gereja, mulai dari respons terhadap tantangan global dan lokal, sampai pembentukan praktik misi yang menyentuh generasi muda. Ada penekanan pada pengembangan pola penginjilan pribadi dan pemuridan generasi Z, serta pada peran gereja saat pelayanan misi harus berjalan seiring posdigitalisasi. Pembaca juga diajak memahami perubahan paradigma dan praktis misi gereja ketika Society 5.0 dan industri 4.0 memengaruhi kehidupan masyarakat, terutama di konteks Indonesia. Dengan demikian, kumpulan kajian ini terasa seperti peta arah dan strategi sekaligus: sebuah ajakan agar gereja tidak hanya memahami perubahan media, tetapi juga mengolahnya menjadi gerakan misi yang relevan, berkelanjutan, dan tetap berakar pada misi Allah.

  • Transformasi Iman
    Vol. 19 No. 1 (2024)

    Kumpulan artikel ini membahas peran kekristenan dan pengikut Kristus dalam konteks pluralisme Indonesia, baik melalui pemahaman iman sebagai garam dan terang maupun melalui pengembangan pendekatan teologis yang relevan bagi masyarakat. Kajian menekankan bahwa teologi harus tampak dalam sikap dan tindakan sosial: tetap setia pada iman, tetapi mampu hidup berdampingan dalam perbedaan agama, budaya, dan kepercayaan.

    Di bagian lain, pembahasan diperluas pada bagaimana karakter iman diwujudkan saat menghadapi tekanan atau perbedaan, serta bagaimana pengikut Kristus merespons kemajemukan dengan sikap yang bijak. Inti akhirnya adalah kasih sebagai landasan relasi: mengasihi sesama yang memiliki kepercayaan berbeda melalui penghargaan martabat manusia, dialog, dan kesaksian yang membangun tanpa kehilangan keteguhan rohani.

  • Iman Gen Z Di Era Digital
    Vol. 20 No. 2 (2024)

    Era digital membentuk cara Gen Z membangun pengetahuan, identitas, dan relasi, termasuk dalam pengalaman iman mereka. Karena itu, rangkaian kajian ini menekankan bahwa Gen Z tidak diposisikan hanya sebagai “pengguna” teknologi, tetapi juga sebagai pendorong inovasi digital yang turut menentukan arah tren dan perkembangan teknologi di masa depan. Dalam kerangka iman, teknologi dipandang sebagai sarana yang dapat mendukung pertumbuhan rohani Gen Z, asalkan digunakan secara bertanggung jawab dan selaras dengan prinsip iman Kristen.

    Selain peluang, kajian-kajian tersebut juga menyoroti tantangan yang menyertai era 5.0 dan arus media digital: tekanan global, banjir informasi, dan pengaruh konten yang dapat membentuk pola pikir maupun iman. Karena itu, ditekankan pentingnya membangun keutangguhan (resiliensi) agar Gen Z mampu menghadapi dinamika dunia modern tanpa kehilangan fondasi iman. Pada saat yang sama, teknologi dan media sosial perlu dimaknai sebagai ruang edukasi dan kesaksian: iman Gen Z dapat “dibawa terang” melalui penggunaan media yang tepat, sambil diwaspadai dampak media sosial terhadap kualitas iman agar tetap bertumbuh, tidak tergeser oleh budaya digital semata.

  • Sakramen Perjamuan Kudus Secara Alkitabiah Dan Teologis
    Vol. 21 No. 1 (2025)

    Kajian-kajian ini membahas Perjamuan Kudus dari sudut pandang alkitabiah dan teologis: dimulai dari dasar-dasar maknanya, kaitannya dengan karya Roh Kudus (termasuk baptisan Roh Kudus dan kepenuhan Roh), hingga penegasan tentang pemahaman yang benar agar jemaat tidak keliru dalam menghayati sakramen. Di dalamnya juga dibahas pengajaran Perjamuan Kudus menurut John Calvin serta bagaimana ajaran tersebut memberi kontribusi bagi kehidupan bergereja, mengarahkan jemaat pada sikap iman, pengertian rohani, dan cara beribadah yang sesuai dengan kehendak Allah.

    Selain itu, kajian-kajian ini menyoroti aspek respons jemaat dan sikap beribadah melalui dasar 1 Korintus 11:27–30, sekaligus menekankan pengaruh sakramen terhadap pembentukan spiritualitas jemaat. Pembahasan yang lebih kontekstual muncul melalui analisis Perjamuan Kudus virtual di rumah anggota jemaat dengan merujuk Yohanes 4:21–24, khususnya tentang bagaimana kehadiran Allah dan penyembahan harus dipahami bukan sekadar sebagai bentuk ritual, tetapi sebagai realitas rohani yang sejati.

  • Kepemimpinan Kristen
    Vol. 22 No. 2 (2025)

    Tema Kepemimpinan Kristen dalam kumpulan kajian ini menekankan bahwa kepemimpinan tidak cukup dipahami sebagai kemampuan mengatur atau mengelola organisasi, tetapi harus berakar pada teladan Kristus. Karena itu, pembahasan mencakup model servan leadership dalam konteks gereja Indonesia, pengaruh karakter Kristen terhadap efektivitas kepemimpinan, serta bagaimana pemimpin Kristen seharusnya mempraktikkan kepemimpinan yang selaras dengan nilai iman di lingkungan gereja maupun organisasi yang lebih luas.

    Di sisi lain, kajian-kajian ini juga menempatkan kepemimpinan dalam kerangka teologis dan firman Tuhan. Konsep kerajaan Allah dipahami dari perspektif Injil Matius sebagai landasan arah dan etika kepemimpinan, sementara studi-studi lain mengevaluasi aspek teologis seperti open theisme melalui konsep gods foreknowledge dan mengaitkannya dengan cara orang memahami kedaulatan serta respons iman. Dengan adanya pembahasan transformational leadership (melalui model Paulus) serta analisis krisis kepemimpinan di gereja masa kini, kumpulan ini pada akhirnya mengarahkan solusi yang menekankan integrasi nilai-nilai kerajaan Allah dalam kepemimpinan pendidikan Kristen di Indonesia.